Selasa, 03 November 2015

Tugas Psikologi Sosial 4 November 2015

Muhammad Ilham 705140092
Marsella Setiawan 705140059
Novia Halim 705140073
Yolanda Jacinda 705140062
Liesye 705140067
Anastasia 705140083
    Dalam tulisan kali ini, beracu pada tugas di kelas psikologi sosial Universitas Tarumanagara. Tulisan di blog kali ini akan membahas tentang stereotype and prejudice. Berdasarkan jurnal “Pengaruh Stereotype Terhadap Posisi Kepemimpinan Perempuan di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis” kami akan membedah tentang stereotype terhadap kaum perempuan.
     Stereotype merupakan kepercayaan mengenai atribut personal dari sebuah kelompok atau individu. Stereotype biasanya terlalu tergeneralisasi, tidak akurat dan bersifat menolak informasi baru yang ada (biasanya akurat). Keterlibatan perempuan dalam berperan di lembaga-lembaga pemerintah adalah hal yang menarik untuk di perbincangkan dan di diskusikan terlebih lagi dalam hal kepemimpinan. Banyak yang menghubungkan antara kemampuan memimpin berdasarkan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan sehingga timbul istilah ketimpangan gender yang menempatkan perempuan pada kondisi yang tidak menguntungkan dimana perempuan yang bekerja di lembaga pemerintah sebagian besar berada dibawah laki-laki, artinya posisi perempuan masih diperhadapkan dengan posisi laki-laki. Melihat posisi dan kondisi perempuan pada jabatan Eselon di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis, terlihat jelas bahwa dilembaga-lembaga pemerintah sebagai pembuat keputusan tidak terlalu  tampak, padahal jumlah populasi perempuan di Kabupaten Bengkalis sangat banyak pada tahun 2011. Menurut Kamla Bhasin, stereotype merupakan pelabelan negative yang diberikan antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan dianggap feminim dan laki - laki  dianggap maskulin.
     Stereotype merupakan salah satu penyebab minimnya jumlah perempuan yang duduk di posisi pemerintah di kembaga khususnya di lingkungan Pemerintah Daerah Kebupaten Bengkalis . Dalam suatu survey, Mary Jackman & Mary Santer (1981) menemukan bahwa stereotype gender lebih kuat dibandingkan dengan stereotype rasial karena ditemukan bahwa 78% dari responden percaya bahwa wanita lebih emosional dibandingkan dengan laki-laki.
Wanita yang terlalu dikelompokan dalam prejudice / stereotype akan mengalami stigma consciousness yaitu kondisi dimana individu merasa menjadi korban oleh prejudice dan stereotype yang ada.
Saran dari kelompok kami adalah agar kaum laki – laki di pemerintahan Kabupaten Bengkalis memberi kesempatan dan kepercayaan pada kaum perempuan untuk memegang kendali dan menjadi seorang pemimpin di pemerintahan Kabupaten Bengkalis. Kaum laki – laki juga bisa membantu dan membimbing kaum perempuan apabila menurut mereka kaum perempuan masih memiliki kekurangan.

Daftar Pustaka
Myers, D. G. (2012). Social Psychology (11th ed.). New York, NY:McGraw Hill.
Sari, N., M, Yunelly., Rosmida. (n.d.).
Pengaruh stereotype terhadap posisi kepemimpinan perempuan perempuan di lingkungan pemerintahdaerah kabupaten Bengkalis. Diunduh dari  http://p3m.polbeng.ac.id>dataq>file>ADM