Muhammad Ilham 705140092
Marsella Setiawan 705140059
Novia Halim 705140073
Yolanda Jacinda 705140062
Liesye 705140067
Anastasia 705140083
Dalam tulisan kali ini, beracu pada tugas di kelas psikologi sosial
Universitas Tarumanagara. Tulisan di blog kali ini akan membahas tentang stereotype and prejudice. Berdasarkan
jurnal “Pengaruh Stereotype Terhadap Posisi Kepemimpinan Perempuan di Lingkungan
Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis” kami akan membedah tentang stereotype
terhadap kaum perempuan.
Stereotype merupakan
kepercayaan mengenai atribut personal dari sebuah kelompok atau individu. Stereotype biasanya terlalu
tergeneralisasi, tidak akurat dan bersifat menolak informasi baru yang ada
(biasanya akurat). Keterlibatan perempuan dalam berperan di lembaga-lembaga
pemerintah adalah hal yang menarik untuk di perbincangkan dan di diskusikan
terlebih lagi dalam hal kepemimpinan. Banyak yang menghubungkan antara
kemampuan memimpin berdasarkan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan
sehingga timbul istilah ketimpangan gender
yang menempatkan perempuan pada kondisi yang tidak menguntungkan dimana
perempuan yang bekerja di lembaga pemerintah sebagian besar berada dibawah
laki-laki, artinya posisi perempuan masih diperhadapkan dengan posisi
laki-laki. Melihat posisi dan kondisi perempuan pada jabatan Eselon di
lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis, terlihat jelas bahwa
dilembaga-lembaga pemerintah sebagai pembuat keputusan tidak terlalu tampak, padahal jumlah populasi perempuan di
Kabupaten Bengkalis sangat banyak pada tahun 2011. Menurut Kamla Bhasin, stereotype merupakan pelabelan negative yang
diberikan antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan dianggap feminim dan
laki - laki dianggap maskulin.
Stereotype merupakan salah satu penyebab minimnya jumlah perempuan yang
duduk di posisi pemerintah di kembaga khususnya di lingkungan Pemerintah Daerah
Kebupaten Bengkalis . Dalam suatu survey, Mary Jackman & Mary Santer (1981)
menemukan bahwa stereotype gender lebih kuat dibandingkan dengan stereotype
rasial karena ditemukan bahwa 78% dari responden percaya bahwa wanita lebih
emosional dibandingkan dengan laki-laki.
Wanita yang terlalu dikelompokan dalam
prejudice / stereotype akan mengalami
stigma consciousness yaitu kondisi
dimana individu merasa menjadi korban oleh prejudice
dan stereotype yang ada.
Saran dari kelompok kami adalah agar
kaum laki – laki di pemerintahan Kabupaten Bengkalis memberi kesempatan dan
kepercayaan pada kaum perempuan untuk memegang kendali dan menjadi seorang
pemimpin di pemerintahan Kabupaten Bengkalis. Kaum laki – laki juga bisa
membantu dan membimbing kaum perempuan apabila menurut mereka kaum perempuan
masih memiliki kekurangan.
Daftar Pustaka
Myers, D. G. (2012). Social Psychology (11th ed.).
New York, NY:McGraw Hill.
Sari, N., M, Yunelly., Rosmida. (n.d.).
Pengaruh stereotype terhadap posisi kepemimpinan perempuan perempuan di lingkungan pemerintahdaerah kabupaten Bengkalis. Diunduh dari http://p3m.polbeng.ac.id>dataq>file>ADM
Pengaruh stereotype terhadap posisi kepemimpinan perempuan perempuan di lingkungan pemerintahdaerah kabupaten Bengkalis. Diunduh dari http://p3m.polbeng.ac.id>dataq>file>ADM