Final Project
EMOSI
ANAK SMP YANG MENJADI KORBAN BULLYING
Latar
Belakang
Dewasa ini, bullying di kalangan pelajar
makin merajalela. Anak yang lebih lemah akan ditindas oleh anak lain yang lebih
kuat dan besar. Banyak orang tua yang tidak mengetahui bahwa saat di sekolah
anaknya ditindas oleh orang lain. Disini akan dijelaskan apa itu bullying, pengaruhnya, dan cara
menanggulanginya.
BULLYING
Pengertian bully dalam Astuti (2008)
“sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi,
menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh
seseorang atau sekelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya
berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang”. Kenyataanya, hal ini memang
benar adanya di kalangan pelajar, seseorang atau sekelompok yang telah
melakukan bullying kepada anak lain
akan merasakan kebahagiaan dan akan terus berulang.
Peduli
Karakter Anak (PeKA,2012). Bullying adalah “penggunaan agresi dengan tujuan untuk
menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal,
emosional dan juga seksual”.
DAMPAK BULLYING
Dampak
bullying dapat berakibat pada kedua
pihak, baik pelaku maupun korban.
KORBAN
Dampak
bullying terhadap korbannya adalah
berkurangnya minat mengerjakan
tugas dari sekolah, sering absen dan bolos sekolah, prestasi menurun, kurang
pergaulan dengan teman-teman sekolahnya, mudah emosi (labil) ketika depresi,
marah, sedih , sering mengalami sakit kepala, sakit perut, nafsu makan menurun,
sulit tidur, sering terlihat ada luka dan memar, barang-barang pribadi banyak
hilang karena dipalak atau dicuri. Korban akan susah untuk menjalin hubungan
dengan orang-orang di sekitarnya.
PELAKU
Dampak terhadap pelaku bullying
adalah rendahnya prestasi anak , menjadi suka menyendiri, termasuk merokok,
menggunakan narkoba, dan tindakan-tindakan kepada kekerasan dan anarkis, sering
bolos sekolah, sikap yang menantang orang tua maupun orang dewasa,khususnya
bagi mereka yang memegang otoritas, dihukum pidana di pengadilan. Pelaku akan
merasakan suasana hati yang luar biasa bahagia setelah menindas orang lain.
Pelaku akan ketagihan dan akan terus mengulanng perbuatannya terhadap korban
yang sama.
CIRI-CIRI ANAK MENGALAMI BULLYING
Perubahan Sikap Mendadak Terhadap sekolah. Perubahan memang biasa terjadi khususnya dalam usia remaja. Sebagai
orang tua, Anda perlu memperhatikan segala perubahan sikap anak, khususnya
mengenai sikap mereka ketika menyangkut sekolah. Jika sikap anak Anda berubah
menjadi buruk secara drastis terhadap sekolah, ini bisa menjadi salah satu
indikasi, anak memiliki masalah dan hari-hari
buruk yang dapat menyebabkan trauma mendalam di lingkungan sekolahnya.
Cedera dan Memar yang Tidak Dapat Dijelaskan. Anak terluka dan memar karena terjatuh mungkin biasa, khusunya bagi anak lelaki. Namun jika tAnda kekerasan tersebut sering terjadi dan ditempat yang tidak lazim, ada kemungkinan besar anak Anda adalah korban kekerasan oleh teman atau orang sekitarnya di sekolah.
Penurunan Nilai. Kekerasan di sekolah tidak hanya terjadi 5 menit di koridor sekolah, tapi berefek panjang dan menyebabkan ketakutan, serta perasaan terancam. Dengan kondisi terintimidasi seperti itu, sangat wajar jika anak tidak dapat fokus terhadap pembelajaran dikelas, dan berujung pada prestasi akademis yang menurun.
Memohon Untuk Tidak Ke Sekolah. Kekerasan disekolah akan menyebabkan penderitaan mental yang berpengaruh pada ketidaknyamanan fisik-stress yang dapat menyebabkan sakit kepala atau sakit perut yang nyata. Ketika anak tidak mau ke sekolah karena beralasan sakit, mungkin juga disebabkan karena tingkat kecemasan yang tinggi untuk menghindari para pengganggu disekolah. Untuk itu, perlu diselidiki lebih lanjut apa yang mendasari timbulnya rasa sakit pada anak Anda.
Perubahan Pola Tidur dan Pola Makan. kekerasan dapat menyebabkan efek trauma yang tidak hilang walau bel sekolah telah usai. Trauma dapat mempengaruhi hilangnya nafsu makan atau membuat area kekerasan ditubuh menjadi sakit kembali, sehingga anak memilih untuk tidak mau makan. Selain kebiasaan makan, pola tidur juga akan terganggu karena kecemasan berlebih untuk menghadapi hari esok.
Perubahan Kehidupan Sosial. Perhatikan apakah anak Anda berubah menjadi tidak tertarik untuk melakukan hobi atau kegiatan favoritnya. Biasanya para pengganggu mencegah anak-anak yang lebih lemah darinya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, olahraga atau kegiatan tertentu yang dianggap kurang keren. Dengan kondisi seperti ini, perhatikan juga apakah anak menjadi menarik diri dalam pergaulan dan lebih senang untuk menyendiri dan menjadi lebih tenang jika berada di dalam rumah.
Perubahan Suasana Hati. Perubahan suasana hati dikategorikan sebagai perilaku remaja yang wajar. Tetapi jika anak Anda yang biasanya berperilaku baik dan halus kemudian berubah menjadi mudah marah dan memiliki emosi yang meluap-luap, ada kemungkinan anak Anda stress karena pengalaman traumatis yang dialaminya. Namun tidak memiliki pelampiasan terhadap emosinya. Untuk itu, bicaralah pada anak Anda agar dia bisa menceritakan mengenai masalahnya disekolah, atau temui psikiater anak jika diperlukan.
Cedera dan Memar yang Tidak Dapat Dijelaskan. Anak terluka dan memar karena terjatuh mungkin biasa, khusunya bagi anak lelaki. Namun jika tAnda kekerasan tersebut sering terjadi dan ditempat yang tidak lazim, ada kemungkinan besar anak Anda adalah korban kekerasan oleh teman atau orang sekitarnya di sekolah.
Penurunan Nilai. Kekerasan di sekolah tidak hanya terjadi 5 menit di koridor sekolah, tapi berefek panjang dan menyebabkan ketakutan, serta perasaan terancam. Dengan kondisi terintimidasi seperti itu, sangat wajar jika anak tidak dapat fokus terhadap pembelajaran dikelas, dan berujung pada prestasi akademis yang menurun.
Memohon Untuk Tidak Ke Sekolah. Kekerasan disekolah akan menyebabkan penderitaan mental yang berpengaruh pada ketidaknyamanan fisik-stress yang dapat menyebabkan sakit kepala atau sakit perut yang nyata. Ketika anak tidak mau ke sekolah karena beralasan sakit, mungkin juga disebabkan karena tingkat kecemasan yang tinggi untuk menghindari para pengganggu disekolah. Untuk itu, perlu diselidiki lebih lanjut apa yang mendasari timbulnya rasa sakit pada anak Anda.
Perubahan Pola Tidur dan Pola Makan. kekerasan dapat menyebabkan efek trauma yang tidak hilang walau bel sekolah telah usai. Trauma dapat mempengaruhi hilangnya nafsu makan atau membuat area kekerasan ditubuh menjadi sakit kembali, sehingga anak memilih untuk tidak mau makan. Selain kebiasaan makan, pola tidur juga akan terganggu karena kecemasan berlebih untuk menghadapi hari esok.
Perubahan Kehidupan Sosial. Perhatikan apakah anak Anda berubah menjadi tidak tertarik untuk melakukan hobi atau kegiatan favoritnya. Biasanya para pengganggu mencegah anak-anak yang lebih lemah darinya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, olahraga atau kegiatan tertentu yang dianggap kurang keren. Dengan kondisi seperti ini, perhatikan juga apakah anak menjadi menarik diri dalam pergaulan dan lebih senang untuk menyendiri dan menjadi lebih tenang jika berada di dalam rumah.
Perubahan Suasana Hati. Perubahan suasana hati dikategorikan sebagai perilaku remaja yang wajar. Tetapi jika anak Anda yang biasanya berperilaku baik dan halus kemudian berubah menjadi mudah marah dan memiliki emosi yang meluap-luap, ada kemungkinan anak Anda stress karena pengalaman traumatis yang dialaminya. Namun tidak memiliki pelampiasan terhadap emosinya. Untuk itu, bicaralah pada anak Anda agar dia bisa menceritakan mengenai masalahnya disekolah, atau temui psikiater anak jika diperlukan.
CARA
MENGHINDARKAN ANAK DARI BULLYING
Temukan keunggulan pribadinnya, berikan sambutan
saat ia datang, bisikkan keunggulan pribadi yang dimiliki sang anak, dan
katakana kalau kita sangat bangga padanya dengan keunggulan yang dimiliki sang
anak dengan tulus, ikut andil dalam
mengembangkan keunggulan pribadi yang dimiliki sang anak, metode bernyanyi, hindarkan dari tontonan kekerasan,
mendongeng dan bersyair. Itu adalah beberapa cara yang bisa dicoba orang tua
untuk menghindarkan dan mengetahui apakah anak sedang mengalami masalah di
sekolah.
KESIMPULAN
Para orang tua masih sangat susah untuk mengetahui
apakah anaknya sedang memiliki maslah di sekolah atau tidak. Untuk itu, orang tua harus lebih peduli dan memberi
perhatian lebih pada anaknya. Bullying
bisa terjadi pada siapa saja, anak kecil, dewasa, maupun orang yang telah
lanjut usia sekalipun. Untuk itu individu harus lebih peduli terhadap individu
lain yang ada di sekitarnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim (2011). Mengatasi “Child Bullying”. http://forum.kompas.com/sekolah-pendidikan/45509-mengatasi-child-bullying.html
Safiera, A. (2012). 7 Tanda Anak Anda Menjadi Korban
Bully di Sekolah. http://wolipop.detik.com/read/2012/07/05/192016/1958789/857/7-tanda-anak-anda-menjadi-korban-bully-di-sekolah
Ariesto, A. (2009). Pengertian Bullying dan Program
Anti Bullying. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/123656-SK%20006%2009%20Ari%20p%20-%20Pelaksanaan%20program-Literatur.pdf
Hensob, L. (2013). Bullying dan Dampak-dampak Kepada
Korban dan Pelaku Bullying. Diunduh dari https://celotehanlutfihensob.wordpress.com/2013/09/19/bullying-dan-dampak-dampak-kepada-korban-dan-pelaku-bullying/
Puspitaningrum, N. P. P. (nd). Motivasi Pelaku Bullying di
Sekolah dan Dampaknya Terhadap School Well Being Korban. Diunduh dari http://www.academia.edu/7737257/Motivasi_Pelaku_Bullying_di_Sekolah_dan_Dampaknya_Terhadap_School_Well_Being_Korban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar